Learn from Life, Teach for Life

A journey of a thousand miles starts with a single step

Kumpulan Cerita Bersama Karisma


   Jun 21

Kumpulan Cerita Bersama Karisma

IMG_2213

Kumpulan Cerita Bersama Karisma

(2007 – 2010)

(*Kisah Nyata Penulis, Aziza Restu Febrianto)

Mungkin cerita ini cukup sederhana.  Tapi KONYOL dan MENGGELIKAN menurutku. Aku yakin diantara kita pasti pernah mengalaminya. Meskipun demikian, kita bisa mengambil pelajaran (ibrah) yang sangat berharga darinya……. Memang setiap kejadian di dunia ini ada ibrah dan pelajarannya….hmm…(Baca ibrahnya di akhir cerita ya)…

Selamat membaca… ^_^

Pada jaman sekarang, tiap orang di Indonesia (khususnya di Jawa) rata – rata pasti mempunyai motor (support polusi bangets…..busyet..dah). Dan setiap orang pasti mengalami beberapa kejadian dan peristiwa yang unik saat mengendarai motornya itu. Nah, melalui tulisan ini, aku bertujuan untuk sekedar share tentang pengalamanku bersama motor kesayanganku “Karisma.” Sudah hampir 4 tahun Karisma menemaniku dalam mengarungi perjalanan hidupku. Banyak sekali kejadian dan peristiwa bersama dia yang ingin sekali aku ceritakan disini.

Pertemuan pertama

Waktu itu aku masih kuliah semester 7 pada salah satu PTN di Semarang . Aku minta tolong pada orang tuaku untuk mencarikanku sebuah motor yang bisa aku pakai saat menjalani PPL di sebuah sekolah menengah atas di Semarang.  Lokasi sekolah itu agak jauh dari tempat aku kos. Kos yang aku tempati berada didekat kampusku yang lokasinya di Sekaran, Gunungpati, sebuah kecamatan wilayah kota Semarang bagian selatan. Sedangkan SMA tempat aku melaksanakan PPL berada di pusat jantung kota, tepatnya di taman KB belakang gedung DPRD Jawa Tengah, Semarang. Salah satu sekolah menengah yang paling tua di kota Semarang.

Dengan perasaan deg – deg an akhirnya aku dikenalkan dengan dia…….. Namanya Karisma. Saat itu aku benar – benar jatuh cinta padanya. Setiap hari aku selalu membelainya, mengelapnya kalau ada kotoran diwajahnya, bahkan aku tidak rela ada orang lain yang berani menyentuhnya…haha (so sweet and Lebay mode:on). Mulai saat itu juga karisma mulai semakin dekat denganku. Dia selalu menemani hari – hariku selama kuliah di Semarang. Kalau waktu senggang, aku sering mengajaknya jalan – jalan bersama teman – temanku lainnya. Ada beberapa kejadian dan peristiwa yang tak terlupakan selama bersama dia….hoho.. Mo tahu?… Let’s cekedot…!!

Kejadian 1

Baru saja orang tuaku merestui hubungan kita, sudah ada kejadian yang tak enak terjadi. Saat itu adalah liburan kuliah yang cukup lama karena Lebaran. Melalui sms dan email aku diundang oleh teman – temanku SMA untuk datang di acara reuni Alumni SMA. Bersama dengan seorang temanku yang rumahnya dekat denganku, aku bertekad untuk memenuhi undangan itu dengan mengendarai motor Karisma baruku. Karena saking senengnya, waktu itu aku ngebut dijalan dengan kecepatan 100 km/jam. Padahal jalan yang kulalui sebenarnya kurang begitu bagus. Ketika sudah berada dekat dengan lokasi reuni, tiba – tiba ada seorang pengendara motor Mega- pro baru yang posisinya tepat didepanku secara mendadak mengambil arah belok kanan. Dengan rasa gugup dan tersentak, aku tak sanggup mengendalikan rem cakram maupun tromol Karisma sehingga kutabrak deh motor barunya….waduhh…. Lampu retingnya hancur, scotlet sobek tidak karuan, dan yang paling parah stangnya bengkok….(wah..aku sangat deg2an waktu itu)… Celakanya lagi sang pengendara yang asli dari Medan itu marah – marah sambil memintaku menunjukkan SIM dan STNK ku….Celaka!! aku belum punya SIM…L. Sehingga aku berada pada posisi yang lemah dalam perdebatan.

Aku hanya bisa pasrah mengenai apa yang ia putuskan tentang kejadian itu. Pada akhirnya  pengendara batak tersebut meminta ganti rugi. Aku diajaknya ke bengkel resmi terdekat dan membayar seluruh biaya perbaikannya, tak terkecuali stang baru pengganti. Untungnya sebelum berangkat ibuku memberiku uang yang cukup termasuk uang saku untuk kuliah di Semarang. Waduh….. mau tidak mau ludeslah uang sakuku untuk memenuhi permintaan pengendara batak tadi coz biayanya tidak sedikit.. . T_T.

Dalam hati aku berkata, “Dasar orang Batak, emang motor karismaku tidak rusak apa……. Seenaknya aja minta ganti rugi sendiri…..harusnya kita damai aja….. Motor kita kan sama – sama rusak…..jadi impas!!!…huh..” L (ups, bukan bermaksud menyinggung orang Batak loh…hihi)

Kejadian 2

Saat itu aku sedang melakukan perjalanan pulang ke daerah asalku, Ngawi. Dari Semarang jaraknya kurang lebih 50 km. Perjalanan dari Semarang menuju Ngawi bisa ditempuh selama kurang lebih 5 jam dengan mengendarai motor berkecepatan 60 km/jam.

Karena baru beberapa kali aku mengendarai motor, tak segan – segan aku mencoba mesin Karisma baruku itu dengan kecepatan lebih dari 100 km/jam. Ketika memasuki daerah Salatiga menuju kota Solo, aku mencoba mendahului mobil Kijang didepanku. Namun tiba – tiba pada saat yang sama, ada seorang pengendara motor GL pro melakukan hal yang sama sepertiku. Sehingga terjadi deh papasan (srempetan) yang tak  terhindarkan. Bagian tubuh kiri pengendara GL pro tersebut menyenggol spion kanan karismaku, sehingga aku tidak bisa mengontrol posisiku. Kemudian aku jatuh terkapar di tengah jalan raya. Untung saja kaki kiriku tidak tergencet oleh badan Karismaku yang terbuat dari metal itu…..fiuhhh..:O. Tapi Alhamdulillah……orang – orang disekitarku langsung dengan cepat membopongku untuk segera keluar dari jalan karena dibelakangku (kurang lebih 50 meter) ada sebuah Bus patas yang melintas. Sedikit saja aku terlambat menghindar, hilanglah nyawaku tertabrak oleh bus itu……

Akhirnya aku selamat dengan luka yang lumayan serius…..Alhamdulillah….

Perasaanku waktu itu campur aduk antara jengkel dan rasa syukur.

Kejadian 3

Berawal dari perjalananku menuju kota Semarang yang berujung hilangnya HP ku…..huhuhu.. T_T. Singkat cerita, saat berencana pergi ke kota Semarang, aku memutuskan untuk naik bis ekonomi yang penuh dengan pedagang asongan didalamnya. Sambil menunggu tiba di Semarang, aku tidur – tiduran dan melamun. Saat aku mau turun dari bis, tiba – tiba ada beberapa orang di bagian belakang bis yang menawarkan bantuan padaku untuk turun. Dengan senang hati aku menerima tawaran bantuan darinya coz aku sedang membawa barang yang cukup berat waktu itu……Setelah turun dari bis, biasanya tanganku langsung mencari tahu dimana HPku berada. Dan ternyata……HPku hilang!!!…..tercopet….Dasarrrr..!! dengan sangat marah, aku berteriak sambil minta tolong pada orang – orang disekitarku….. tapi ya sudahlah, aku harus ikhlas melepas kepergian HPku itu…….sempet aku berkata dalam hati “Pak pencopet, bolehlah kamu mengambil HPku, tapi kembalikan simCardnya, please.”…..

Beberapa hari kemudian aku mengajak salah seorang dari temanku untuk mengurus simcard ku ke Galery Indosat di Semarang. Selama di perjalanan dengan mengendarai si Karisma, aku ngobrol dan bercanda dengan temanku yang sedang bonceng di belakangku. Kemudian tiba – tiba muncul dua sosok pengendara motor sedang mendahuluiku. Kelihatannya aku mengenal kedua sosok tersebut. Tanpa buang waktu aku langsung mengejarnya dan menengok ke arahnya sambil menyapa. Busyettttt,,,,emang benar mereka adalah orang yang pernah kukenal sebelumnya. Tapi aku tidak menyangka tiba – tiba didepanku ada sebuah motor yang sedang ngerem mendadak karena lampu merah. Dubbbraaaaaaakkkkkk!!! Bertujuan untuk menghindari tabarakan, akhirnya justru aku terpeleset dan tersungkur dijalan raya…….. Aduuhh…. Sakiiittt..!! Kakiku lecet karena terkena gesekan aspal…

Dalam hati aku berkata, “Sempat – sempatnya aku tadi menyapa orang. Padahal jalan begitu rame…huh.” “Ya sudahlah…. Sudah terlanjur.”…(Bondan Prakoso mode:on).

Hmm….sungguh sial nasibku waktu itu. Sudah HP hilang kecopet, kecelakaan lagi….. :(

Peristiwa 1

Saat itu aku sedang asyik berkumpul dengan tiga sahabat dekatku waktu kuliah. Tiap kali kita bertemu, pengen rasanya jalan – jalan atau cari hiburan melepas penat. Biasanya kita mengisi waktu bersama dengan berenang, jalan – jalan ke mall, atau nonton film inspiratif yang sedang tayang di bioskop terdekat di Semarang yaitu Bioskop Plasa dan Citraland Simpang lima.  Waktu itu kita memutuskan untuk nonton film “Perempuan Berkalung Sorban” di Bioskop Citraland dengan naik motor bersama – sama menuju kesana. Sampai di Simpang lima, ternyata kita salah arah. Jalan yang kita lewati adalah jalan satu arah yang berlawanan. Gawat…!!.. didepan ternyata ada pos polisi. Meskipun kita tahu kalau didepan ada pos polisi, kita tetap saja nekat melaju terus di jalan itu.

“Wah yang penting gak ketahuan. Terus aja.” Dengan rasa tenang kita melewati pos polisi itu. Tiba – tiba salah satu diantara kita mendengar suara tiupan peluit. Langsung saja kita bertiga gugup dan kebingungan bukan main. Setelah menengok ke belakang, ternyata ada seseorang berseragam dengan membawa tongkat menuju kearah kita.

“Waduh…kabur…kabur aja…”kata salah satu diantara kita.

“Jangan…….jangan…. ntar kalo ketangkap bisa lebih parah jadinya.”kataku. Akhirnya kita pasrah saja menuruti perintah petugas polisi itu. (secara.. kalo kita kabur, polisi pasti tetap bisa mengejar kita. Pake motor Thunder gedhe lagi. Jelas Karismaku gak akan bisa menandingi motor bermesin 250 cc itu).

Selama di pos polisi, perdebatan sengitpun terjadi. Antara mau sidang di pengadilan atau cukup bayar denda saja. Kalau sidang, ntar malah harus ke kantor pengadilan. Kalau bayar, semuanya jadi segera selesai saat itu juga. Tapi kalo memilih membayar denda, biayanya satu orang pengendara motor sebesar 50 ribu. Wah, sebagian duit didompetku bakal melayang nich… Perdebatanpun mulai sengit.

“Tolonglah pak, kasihani kami. Kami kan mahasiswa rantauan. Tuh lihat plat nomor motor saya saja AE. Jadi saya kurang begitu paham jalanan di semarang.” Kataku dengan memelas.

“Iya pak, 50 ribu tu terlalu besar. Harusnya 20 ribu. Saya pernah ketilang, dendanya gak segitu. Cuma 25 ribu. Lagian kita juga gak sengaja.” Tambah temanku dengan ngotot. Waktu itu emang temenku bener – bener ngajak rame sama petugas polisi itu.

“Tidak bisa!!!” “Sebenarnya pelanggaran yang telah kalian lakukan itu didenda ratusan ribu. Kok kalian masih ngeyel aja.” Kata petugas polisi itu dengan kesal.

“Plizzz pak kami mohon deh. Lain kali kita berjanji nggak akan mengulangi pelanggaran yang sama lagi.”sahutku memohon.

“Banyak alasan juga kalian ya! Gak bisa! Pokoknya SIM dan STNK anda saya sita. Nanti diambil pas waktu sidang tanggal 25. Gak usah banyak alasan.”

Kemudian kebetulan salah satu diantara kita punya paman yang bertugas di Satuan TNI di Magelang. Entah ada angin apa kemudian dia menelpon pamannya itu, berharap agar ia bisa membantu kita di pos polisi tersebut. Saat pamannya meminta untuk berbicara pada salah satu petugas polisi itu, akhirnya mereka semua mengurungkan niatnya untuk memberikan sanksi pada kita.

Dalam hati aku berkata, “Jadi kalo mereka yang anaknya, menantunya, istrinya, sepupunya, atau keponakannya seorang polisi, jendral bahkan pejabat, maka kapanpun mereka melanggar aturan di jalan raya, gak ada masalah.”….hehe…lucu. Tapi pikiran itu hilang begitu saja oleh kegembiraan yang kurasakan karena  terlepas dari sanksi…. Aku juga aneh sendiri…hihihi

Peristiwa 2

Aku hampir menyelesaikan kuliahku di Semarang. Waktu itu aku hanya mengambil dua mata kuliah, yaitu PPL (Praktik Pengalaman Lapangan) dan KKN (Kuliah Kerja Nyata). Setelah menyelesaikan PPL pada tiga bulan pertama semester, aku mengikuti KKN yang dilaksanakan di sebuah kota kecil yang terletak di sebelah barat kota Semarang (Pantura) yaitu kota Kendal. Saat KKN, aku tidak menyangka semua teman – temanku menunjukku sebagai Koordinator Mahasiswa Kecamatan dengan pertimbangan pengalaman organisasi di kampus. Selama kuliah aku memang sering jadi panitia baik Rohis, BEM, maupun UKM. Bahkan pernah ditunjuk sebagai ketua BSO BEM Fakultas. Inilah yang membuatku cukup terkenal….hehe (narsis mode:on).

Sebelum berangkat menuju lokasi KKN, kita diberi pembekalan terlebih dahulu selama dua hari. Pada hari kedua saatnya packing dan langsung berangkat menuju lokasi. Aku memutuskan untuk memakai motor saja. Seperti halnya kampanye ato demonstrasi, kita semua berangkat menuju lokasi KKN dengan mengendarai motor….wuih..seruuu.. jeng – jeng. Tak terasa aku telah tertinggal jauh dari teman – temanku. Agar bisa mengejar mereka didepan, aku harus menaikkan kecepatan motorku. Saat mengendarai motor dengan kecepatan yang cukup tinggi, tiba – tiba saat sampai disebuah perempatan, (traffic lights ato bang jo bahasa gaulnya) menunjukkan lampu hijau, kemudian kuning menyala. Tandanya aku masih ada kesempatan untuk melanjutkan perjalananku. Ternyata dugaanku salah. Lampu yang tadinya kuning langsung berganti merah. Sedangkan aku masih ditengah – tengah perempatan…….OMG (Oh My God)…celaka gua.!! Wah ada polisi yang nyemperin aku. Polisi itu membimbingku menuju ke pos polisi lalu lintas terdekat.

“iya, ada apa pak?” tanyaku pada polisi itu.

“maaf, apakah saudara tadi tidak melihat kalau ada lampu merah? Kok nyelonong begitu saja” jawab polisi itu dengan sopan. “Oh, maaf pak…. Saya kira tadi masih lampu hijau. Karena saya mengikuti motor didepan saya yang duluan menyeberang.” Lanjutku.

“Yang jelas saudara sudah melakukan pelanggaran lalu lintas. Mari, anda ikut saya.” Jelas pak polisi. Kemudian aku mengikuti polisi itu menuju pos polisi terdekat. Sesampainya di pos polisi, aku diinterogasi habis – habisan. Berbagai macam ceramah tentang aturan lalu lintas keluar dari mulut polisi itu dan beberapa rekannya yang lain. Kemudian saat mereka mencoba menyita SIM dan STNK ku, aku berontak dan mencoba untuk bernegosiasi.

“Maaf, pak. Kalau SIM dan STNK saya disita, kemudian saya pake apa dong?” tanyaku pada salah satu polisi yang membawa SIM dan STNK ku itu.

“Nanti akan saya buatkan surat pernyataan sebagai pengganti sementara SIM dan STNK anda. Yang jelas SIM dan STNK ini saya sita, kemudian nanti anda ambil di pengadilan tanggal 23.” Jelasnya.

“wah, maaf pak. Saya ini khan sedang melaksanakan tugas kuliah di Kendal dan kegiatannya sangat padat, jadi sangat tidak memungkinkan sekali bagi saya untuk mengurusnya di pengadilan.” Bantahku sambil memohon.

“Loh, anda ini gimana, yang namanya melanggar ya anda harus mengurusnya di pengadilan.” Jawab salah seorang polisi. “Apakah tidak ada cara lain selain mengurus di pengadilan pak? Lagian saya ini kan bukan asli orang Semarang. Jadi saya kurang paham dengan jalan disini” tambahku. “Anda ini pake alas an saja. Kalau anda sudah tahu anda mengendarai motor di jalan raya, ya anda harus berhati – hati dan waspada.” Tambahnya agak marah.

“Maaf pak, saya sekarang memang benar – benar sedang melaksanakan tugas kuliuah KKN. Jadi saya benar – benar tidak memiliki waktu untuk keluar dari lokasi KKN. Apalagi saya ditunjuk sebagai koordinator. Sekarang saya sudah ditunggu sama teman – teman dan dosen saya di tempat.” Jelasku memelas.

Pada akhirnya polisi itu luluh dan menyerah juga…..hehe.. A ji – aji dalam bernegosiasi thu ya seperti ini…haha. Meskipun sampai terlihat memelas and lemah….. tapi ternyata polisi itu tidak langsung melepaskanku begitu saja. Ternyata sebagai pengganti mengurus SIM dan STNK di pengadilan, mereka minta kocekan sekitar 25 ribu dariku. Yah, terpaksa deh uang jajanku selama KKN aku kurangi untuk urusan ini. Daripada aku harus mengurusnya di pengadilan… Tambah panjang nanti urusannya…. Hihi….ternyata dimana – dimana polisi itu sama.. narikin uang kalau ada orang yang melakukan pelanggaran sebagai jaminan tidak mendapatkan sanksi lebih berat….

Peristiwa 3

Saat masih kuliah dengan kesibukan menulis skripsi dan mengajar siswa SMP di Semarang, aku ditelpon ibuku untuk membantu adikku yang saat itu ingin melanjutkan kuliah. Kebetulan di UNNES sedang membuka pendaftaran mahasiswa baru (SPMU). Aku suruh saja adikku untuk mendaftar. Tentu saja konsekuensinya adalah aku harus menjemput dan mengantarnya selama proses pendaftaran di Semarang karena ia sama sekali tidak tahu jalan di ibu kota provinsi itu. Aku sempat mengantarnya keliling kota Semarang termasuk mengunjungi masjid agung jawa tengah dan Lawang sewu. Hari pertama saat mendaftar tes, semuanya berjalan lancar. Tidak ada halangan sedikitpun terjadi pada kita. Setelah semua persyaratan pendaftaran sudah terpenuhi semua, aku menyuruhnya untuk langsung pulang dan menyiapkan diri untuk mengikuti tes seleksi pada hari yang telah ditentukan.

Waktu tes SPMU (Seleksi Penerimaan Mahasiswa Unnes) tiba. Tandanya bahwa aku harus siap – siap untuk mengantarkan adikku ke lokasi ujiannya. Waktu itu ia dapat lokasi ujian di USM (Universitas Semarang) sebuah kampus yang lokasinya di kota Semarang bawah, sebelah timur Masjid Agung Jawa Tengah.

Aku memutuskan untuk mengantarnya melihat lokasi ujian satu hari sebelumnya agar dia tidak kesulitan mencarinya saat waktu ujian berlangsung. Waktu itu kita berangkat sekitar jam 8 pagi dari kos. Kebetulan di saat yang sama kota Semarang sedang ramai dengan kedatangan beberapa artis ibukota. Sehingga jalan di bundaran Simpang Lima macet total. Meskipun begitu, kita tetap terus melewatinya karena daripada aku kesulitan mencari jalan alternatif lain. Tapi Alhamdulillah, akhirnya kita bisa melewati Simpang lima dengan lancar. Setelah melewati Simpang lima, kita melanjutkan perjalanan lagi kearah Purwodadi.

Aku sangat menikmati sekali perjalanan motor waktu itu sampai tidak memperhatikan tanda lalu lintas yang ada. Ternyata jalan yang aku lewati di tutup oleh petugas polisi setempat agar lalu lintas di sekitar Simpang lima menjadi lancar. Jalan yang seharusnya lurus, dialihkan kearah kiri menuju jalan arah pasar Johar. Sebenarnya aku juga sudah melihat jelas kalau ada tanda lalu lintas itu di depanku. Tapi karena saking menikmatinya perjalanan, aku cuek dan tidak memperhatikannya. Akhirnya setelah melewatinya, ada seorang petugas polisi berada di posisi depan untuk mencegatku.

“Priiiittt….priiittt..” peluitnya begitu jelas dan keras sekali suaranya.

Dalam kondisi seperti orang yang tidak berdosa, aku bingung dan bertanya pada adikku tentang apa yang dilakukan polisi itu kepada kita.

“Mas, polisi itu mau mencegat kita!!” katanya

“Emang ada apa? Kita melakukan kesalahan apa?”tanyaku balik.

Setelah aku berhenti, polisi itu kemudian mendekatiku dan menjelaskan pelanggaran yang barusan aku lakukan.

“Selamat pagi pak, apa anda tidak memperhatikan tanda yang telah anda lewati tadi.” Kata polisi itu dengan heran.

“A….aa….oh..” dengan agak kebingungan, aku mulai ingat apa yang telah aku lakukan. Huh….aku cukup menyesal dengan itu.

Kemudian polisi tadi menyuruhku untuk mengikutinya ke pos polisi terdekat untuk interogasi dan pemberian sanksi. Sesampainya di pos polisi, seperti yang biasa aku lakukan sebelumnya yaitu mencari strategi negosiasi agar terlepas dari sanksi….hehe.

Sesampainya di pos polisi, ternyata aku bukanlah satu – satunya pengendara yang kena tilang. Ternyata banyak sekali pengendara baik motor maupun mobil yang melakukan pelanggaran sama sepertiku. Semua pengendara itu mencoba untuk bernegosiasi dengan polisi agar dilepaskan dari sanksi. Kalaupun kena sanksi, mereka berharap kasus mereka cukup diselesaikan di pos polisi saja. Mereka keberatan kalau harus mengurusnya di pengadilan. Jujur saja, akupun juga ikut – ikutan…hihi.. tapi sebenarnya negosiasi yang kulakukan itu bukan semata – semata keinginan pribadiku yang ingin lepas dari sanksi. Tapi terus terang saja jika aku diam dan mengikuti apa yang diperintahkan oleh petugas polisi, aku malu dikira orang yang samin (alias bodoh)….hehe.

Namun negosiasi yang kita lakukanpun tetap sia – sia. Polisi itu tetap bersikukuh untuk meminta kita ke pengadilan. Ya sudahlah……akhirnya dibawa deh SIM ku.

Peristiwa 4

Peristiwa ini terjadi saat aku sedang melakukan tugas kerja. Aku bertugas mengunjungi beberapa sekolah menengah di kota Salatiga. Waktu itu ada tiga sekolah yang harus aku kunjungi. Untuk menuju ketiga sekolah tersebut, aku harus melewati beberapa traffic lights yang harus aku lewati. Peristiwa tak terlupakan ini berawal saat aku melakukan perjalanan pulang ke kantor. Nah, tibalah aku di traffic lights pertama (di daerah Kauman Salatiga/ pertigaan sebelum menuju kampus UKSW). Waktu itu aku piker aku tidak usah berhenti saja soalnya lampunya masih hijau. Tanpa ragu aku meneruskan perjalananku tanpa memperhatikan lampu pada jarak yang lebih dekat. Selain aku, didepan juga ada mobil sedan yang melaju meskipun lampu traffic lights menunjukkan lampu kuning dan sesaat kemudian merah. Aku ikuti deh mobil itu dengan cepat. Setelah melewati traffic lights, tiba – tiba dibelakangku ada seorang petugas polisi dengan motor gedhe mengikutiku dan menyuruhku untuk menepi.

“Maaf pak, mari ikut saya ke pos polisi” kata polisi itu padaku.

Aku hanya diam dan langsung mengikuti instruksi polisi itu. Sesampainya di pos polisi, polisi itu mulai menginterogasiku dengan menyita SIM dan STNK milikku. Aku diminta untuk mengambilnya di pengadilan dua minggu setelahnya. Tidak mau diam saja, aku mulai berfikir tentang strategi apa yang harus aku gunakan agar aku terlepas dari sanksi. Sebenarnya aku tidak begitu ingin serius dalam urusan ini karena aku sudah cukup capek sehabis melakukan tugas kerja. Kemudian aku memutuskan untuk terus terang saja pada petugas polisi kalau aku telanh melakukan pelanggaran lalu lintas. Tapi aku benar – benar tidak sengaja melakukannya. Setelah menjelaskan semua plus alasan kalau aku bukan asli orang Salatiga, akhirnya dia mengijinkanku untuk melanjutkan perjalanan tanpa sanksi sedikitpun.

“Saya suka dengan sikap jujur dan kooperatif anda. Biasanya kalau orang sudah ketilang, ada aja alasan yang mereka utarakan sampai membuat polisi kesal.”Kata polisi itu sambil menyerahkan kembali STNK dan SIM ku.

Tidak lupa pak polisi itu berpesan, “Lain kali jangan diulangi lagi ya.”

Aku memang jadi orang yang sangat beruntung waktu itu…. Ternyata pak polisi yang bengis dan tegas itu bisa luluh juga dengan gaya bicaraku yang agak memelas…hihi.

Meskipun banyak sekali cerita tidak mengenakkan bersama Karismaku, namun dia telah menemaniku ke berbagai macam tempat yang belum pernah aku kunjungi sebelumnya seperti Sragen – Karanganyar -  Solo -  kartasura – Boyolali – ngampel – Salatiga – Ungaran -  Gunungpati – Semarang – Kendal – Batang – Pekalongan – Pemalang – Tegal………. (Jalan raya solo dan Pantura). Selain itu jalur utama Semarang –  Jogja melewati, Bandungan, Temanggung, Magelang, Klaten, Purworejo, Sleman, dan Jogja. So kita berdua bisa dibilang “The advantures.”  ….hehe

Nah, sekarang apa ibrahnya?

Berikut ini adalah beberapa ibrah yang bisa kita ambil:

  1. Mengendarai motor itu tidak hanya membutuhkan sikap kehati – hatian kita saja, tapi keterampilan dan konsentrasi saat berkendara itu jauh lebih penting.
  2. Sebelum mengendarai motor, kita harus mempunyai STNK dan SIM terlebih dahulu.
  3. Saat mengendarai motor di jalan, kita harus memperhatikan rambu – rambu lalu lintas yang ada.
  4. Ketika kita melanggar lalu lintas dan tertangkap oleh polisi, jangan malah mengajak berdebat karena posisi kita juga salah. Tapi dibicarakan secara baik – baik. Mengurus STNK dan SIM ke pengadilan juga tidak apa – apa kok toh kita juga sudah dikasih surat tilang sebagai penggantinya.
  5. Dengan melihat peristiwa yang aku alami tersebut, kita bisa mengetahui siapa petugas polisi yang kurang baik dalam melakukan tugasnya dan mana yang professional.
  6. Melalui kisah nyata ini kita juga bisa menela’ah apakah falsafah Negara kita (Pancasila) khususnya ayat ke – 5 (Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia) benar – benar sudah diterapkan oleh seluruh lapisan masyarakat kita apa belum (khususnya dalam hal pelanggaran lalu lintas)…hehe.
  7. Setegas dan sejahat apapun orang, tetap akan luluh dengan perkataan halus dan senyuman manis kita (teori negosiasi mode:on)…hehe. Tapi jangan diterapkan untuk hal yang gak bener ya….hehe.. :D

Salatiga, 19 Juni 2010

Saat mempersiapkan diri untuk perjalanan pulang ke Ngawi mengurus pajak si Karisma ^_^

You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply