Learn from Life, Teach for Life

A journey of a thousand miles starts with a single step

Pengalaman Terunik dalam Hidupku……:)


   Jul 12

Pengalaman Terunik dalam Hidupku……:)

Untitled-TrueColor-19

Upacara Bendera

*Oleh Aziza Restu Febrianto


Masih ingatkah kita pada sebuah lagu ciptaan Chrisye yang berjudul “Kisah Kasih di Sekolah?” Banyak orang bilang masa sekolah adalah masa yang paling indah. Waktu saat kita punya banyak teman, berkumpul dan belajar bersama serta mengenal asmara (so sweet). Kita semua tentunya memiliki pengalaman dan kisah yang unik tak terlupakan selama di sekolah. Seperti halnya aku yang pernah mengalami sebuah kejadian cukup unik saat duduk di bangku sekolah.

Kejadian ini kualami saat masih belajar di SMA. Setelah lulus dari SMP, aku memutuskan untuk melanjutkan studiku di sebuah SMA favorit di kotaku. Sekolah itu terletak di jantung kota. Di sekolah itu aku adalah salah satu siswa yang berasal dari desa. Kebanyakan siswa yang sekolah di SMA itu berasal dari kota. Selama di SMA, aku dikenal cukup pendiam dan pemalu. Aku cenderung lebih suka bergaul dengan beberapa temanku yang berasal dari desa sepertiku. Selain itu aku juga sering bergaul dengan teman – teman yang aktif di kegiatan masjid sekolah karena aku merasa nyaman saat bersama mereka. Pada akhirnya aku juga ikut aktif di kegiatan masjid bersama mereka. Bahkan aku juga terlibat dalam kepengurusan takmir masjid. Karena seringnya mengikuti kegiatan islam dan aktif dalam kepengurusan takmir masjid, kebanyakan teman – temanku menganggapku sebagai anak yang alim dan tahu banyak tentang agama. Bahkan hampir semua guru di sekolahku juga menganggapku demikian. Tiap kali ada kegiatan keislaman di sekolah, aku selalu ditunjuk sebagai panitia dan pemimpin do’a..

Hmm…Namanya juga manusia apalagi masih remaja. walaupun cukup aktif di kegiatan kerohanian islam dan terkenal pendiam, terkadang aku masih suka jahil. Aku paling suka ngerjain anak perempuan. Jika ada anak perempuan cantik yang lewat didepan kelasku, tak segan – segan aku untuk menyapa dan menggodanya…hehe. Apalagi kalau yang lewat didepan kelasku itu adalah adik kelasku…..berbagai macam strategipun aku siapkan agar bisa membuatnya luluh.

Karena suka jahilin anak perempuan, akhirnya aku mulai jatuh hati pada seorang siswi cantik berjilbab yang merupakan adik kelasku waktu itu. Aku merasa bahwa dalam hidup baru pertama kali ini aku melihat sosok perempuan secantik dia. Aku benar – benar telah jatuh cinta….hmm. Rasanya hati ini sedang berbunga – bunga. Bayangan gadis berjilbab itu setiap saat selalu ada  dalam pikiranku. Tiap malam aku selalu teringat akan senyumannya yang sangat menawan. Tiap kali aku beretemu dengannya, aku tak kuasa mengendalikan detak jantungku yang selalu menganggu pikiranku. Gadis itu benar – benar telah membuatku tergila – gila saat itu.

Karena perasaan suka yang begitu mendalam pada gadis berjilbab itu, ingin rasanya untuk bisa berkenalan dan berteman dengannya. Kebetulan salah seorang temanku yang cukup mengenal gadis itu bersedia membantuku untuk berkenalan dengannya. Setelah berkenalan, aku merasa seperti orang yang paling bahagia. Bagaimana tidak? Jarang loh ada orang yang bisa berkenalan langsung dengan gadis alim berjilbab seperti dia. Sehingga aku merasa menjadi orang yang paling beruntung saat itu.

Setelah kejadian itu, tiap kali aku melihatnya, ada perasaan yang berbeda dalam diriku. Aku benar – benar tak dapat mengendalikan perasaanku. Berbagai macam cara pun aku lakukan agar ia tertarik padaku. Mulai dari mengirmkan surat lewat temannya sampai memberikan hadiah kecil padanya. Aku pun mulai suka memperhatikannya saat dia lewat didepanku. Tapi aku tak berani menyapanya. Kalau biasanya aku sering menyapa dan menggoda siswi cantik yang lewat didepan kelasku, tapi kali ini sangatlah berbeda. Aku tak bisa berbuat apa – apa saat didekatnya. Bahkan mau berkata saja susah…hmmm..

Namun usaha dan harapanku ternyata sia – sia. Perhatian demi perhatian aku berikan padanya, tapi tak pernah ada jawaban darinya. Bahkan semakin sering aku memberikan perhatian, semakin pula aku mendapatkan sikap acuh darinya. Kadang aku merasa yakin bahwa aku pasti bisa mengambil hatinya. Tapi kenyataannya justru sebaliknya. Gila…..aku sempat berkata dalam hati, “gila gadis macam apa kau ini!. Susah juga….Hebat bener…”

Hari demi hari aku mulai disibukkan dengan tugas sekolah dan persiapan menghadapi UN karena waktu itu aku sudah kelas 3. Aku harus fokus…gak boleh terganggu oleh bayangan dia. Aku sempet berupaya untuk optimis. Optimis sih iya, tapi apa daya tetap saja bayangan gadis berjilbab itu mampir lewat di pikiranku. Secara, tiap kali ke sekolah, aku selalu bertemu dengannya…..huhu.

Waktu itu hari sabtu. Aku dan teman – teman sekelasku dipanggil oleh bapak wakil kepala sekolah bagian kesiswaan melalui ketua kelas. Kita semua diminta untuk segera datang ke lapangan sekolah. Aku sempat heran kenapa kita semua dalam satu kelas diarak ke lapangan. Apa karena gara – gara kita sering terlambat ke sekolah sehingga mendapatkan hukuman. Aku berdo’a dalam hati mudah – mudahan hukumannya tidak seberat yang kupikirkan seperti berlari mengitari lapangan 10 kali. Oh my God….Bisa mandi keringat deh jadinya. Tapi ternyata dugaanku salah. Karena besok lusa adalah hari senin, maka bapak wakasek kesiswaan memberi tugas kepada kita untuk mempersiapkan diri sebagai petugas upacara bendera hari senin.

Setelah menyampaikan perintah penugasan, beliau memandu kita sejenak dalam rapat untuk membahas pembagian tugas dan peran masing – masing dari kita dalam penugasan upacara. Salah satu teman kelasku yang sangat aktif di Pramuka langsung ditunjuk sebagai komandan upacara. Tiga orang lainnya yang berpostur tubuh tinggi ditunjuk sebagai pengibar bendera. Beberapa menjadi pembaca UUD’ 45 dan Pancasila. Sisanya adalah grup kur menyanyi lagu Indonesia Raya. Kemudian yang terakhir adalah pembaca do’a. Bapak wakasek berpikir sejenak kira – kira siapa diantara kita yang nantinya bertugas sebagai pembaca do’a. Karena pertimbangan karakter dan kegiatan yang aku ikuti, kemudian aku terpilih sebagai pembaca do’a. Aku sempat menolak waktu itu dengan alasan belum siap. Kemudian beliau menjelaskan bahwa saat membaca do’a, aku tidak perlu membuat naskahnya sendiri. Naskah sudah disiapkan oleh sekolah. Akhirnya aku bersedia. Aku merasa itu adalah pekerjaan yang mudah bagiku. Hanya sekedar membaca naskah do’a yang telah disiapkan didepan semua siswa sekolah saat upacara. Semua orang bisa. Setelah pembagian tugas selesai, kita kembali ke kelas kita.

Hari senin pun tiba. Saatnya bersiap – siap untuk berangkat ke sekolah lebih pagi. Aku harus memastikan bahwa aku berangkat paling awal diantara teman – temanku lainnya agar ada waktu yang cukup bagiku untuk mempersiapkan diri sebelum upacara dimulai. Jujur saja selama dirumah aku sama sekali tidak latihan membaca do’a. makanya aku berangkat ke sekolahnya paling awal…hehe. Ternyata sebelum bel masuk berbunyi, bapak wakasek kesiswaan menyuruh kita untuk melakukan simulasi terlebih dahulu sebelum pelaksanaan upacara yang sebenarnya. Simulasipun kita laksanakan dengan lancar. Tapi sayangnya simulasi tidak berlangsung sampai selesai karena beberapa menit kemudian bel masuk berbunyi. Akhirnya aku tidak mendapatkan kesempatan untuk melakukan simulasi membaca do’a.

Teeeeettt…..teeeettttt….teeeeeetttt… bel tanda masuk berbunyi. Karena hari senin, semua siswa tidak langsung masuk ke kelas mereka masing – masing. Tapi langsung menuju lapangan sekolah untuk melaksanakan upacara bendera. Aku dan teman – temanku sekelas langsung bergegas menyiapkan diri. Suasana upacara waktu itu begitu hening. Tidak ada suara gaduh terdengar dari kerumunan siswa yang sedang berbaris rapi. Secara, jika ketahuan ada salah seorang siswa melakukan kegaduhan, para guru yang bertugas mengawasi upacara di belakang barisan siswa langsung memberikannya skor/ sanksi. Sehingga kegiatan upacara itu hampir sepenuhnya berjalan dengan lancar.

Dalam keadaan berdiri didepan semua barisan siswa, aku merasa sedikit grogi alias nervous (dasarnya pemalu ya gini). Untungnya aku masih sanggup mengendalikan emosiku. Tapi seketika aku menengok ke sebelah barisan siswa paling kanan, detakan jantungku semakin kencang. Ada sesosok gadis cantik sedang berdiri di barisan paling depan. Gadis itu adalah  siswi berjilbab yang selama ini menganggu pikiranku. Gila…aku benar – benar tak tahu harus berbuat apa. Waktu itu perasaan nervousku semakin meningkat. Duh…gimana nih…

Hampir seluruh kegiatan upacara berjalan dengan lancar. Dari pengibaran bendera hingga pembacaan pancasila dan UUD’ 45. Kemudian sang pembawa upacara memberikan instruksi di akhir upacara bahwa upacara telah selesai dan ditutup dengan pembacaan do’a. akupun maju tiga langkah kedepan dengan membuka naskah do’a yang akan aku baca. Saat aku berdo’a, semua peserta upacara bendera mnunduk dan khusuk menghadap sang pencipta. Demikian pula aku berusaha untuk dapat khusuk dalam membaca. Akupun membaca hampir seluruh naskah do’a dengan lancar. Namun ternyata naskah do’a itu berjumlah dua lembar halaman. Aku mulai terkejut karena saat simulasi aku tidak tahu kalau naskah itu bersambung di halaman berikutnya. Teks bersambung itu tepat pada kalimat yang terputus ini “Ya Alloh, ya tuhan kami, berikanlah kami kekuatan untuk senantiasa mening – “ kalimat itu berlanjut di halaman berikutnya dengan bunyi “ – meninggikan agamamu.” Karena nervous dan merasa ada seorang pujaan hati yang memperhatikan, akhirnya dengan PDnya aku mengucap “Meninggalkan” (coz aku kira kalimat itu berlanjut seperti ini “meninggalkan larangan-Mu dan menaati perintah-Mu.”) tapi ternyata jadinya “Meninggalkan agamaMu.”……”Oh…Gosh!!”

Suasana upacara bendera yang sebelumnya tenang dan hening berubah seketika seperti pertandingan sepak bola….. Semua mata peserta upacara tertuju padaku dengan ketawaan mereka yang merubah suasana. Melihat dan mendengar keramaian dari peserta upacara itu membuatku menyadari kesalahanku dalam membaca teks tadi. Oh…my God…… “kenapa ini bisa terjadi?” tanyaku dalam hati. Seketika wajahku menjadi pucat dan keluar keringat dingin dari seluruh sekujur tubuhku. Aku tak menyangka aku telah melakukan hal yang sangat memalukan seumur hidupku. Semua orang mengetawakanku……huhuhu

Setelah upacara bendera selesai, aku dipanggil oleh beberapa guruku. Awalnya mereka sedikit marah padaku karena menganggap bahwa aku kurang persiapan. Tapi kemudian mereka menasehatiku untuk tidak melakukan hal yang sama lagi. Mereka bilang bahwa pengalamanku waktu itu akan menjadi pelajaran yang sangat berharga sekali bagiku.

Ternyata apa yang dikatakan beberapa guruku itu benar bahwa kejadian saat upacara bendera itu memang menjadi pelajaran sangat berharga. Ketika di kampus, aku sangat aktif di kegiatan organisasi mahasiswa. Beberapa kali aku ditunjuk sebagai ketua dan koordinator kegiatan. Pada akhirnya aku sering memberikan sambutan di depan peserta yang jumlahnya sampai ribuan. Aku juga pernah memimpin do’a pada beberapa acara kampus baik tingkat Universitas maupun Nasional. Alhamdulillah semua berjalan lancar. Bahkan salah seorang dosen dan dekan fakultasku mengacungiku jempol saat aku mampu mempengaruhi emosi peserta saat memimpin do’a di sebuah acara besar tingkat fakultas……

Hmmm…memang pengalaman itu adalah guru yang terbaik… :) .

You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

One Comment

  1. luqman hakim says:

    Friend’s experience is the best teacher because we dont neet to feel the pain, yet we learn something from his experience… :D

Leave a Reply