Learn from Life, Teach for Life

A journey of a thousand miles starts with a single step

Buka Rahasia nih…hehe..jadi malu..^^


   Jul 24

Buka Rahasia nih…hehe..jadi malu..^^

love-wallpaperPerjalanan Mencari Cinta

*Oleh Aziza Restu Febrianto

(Kisah nyata penulis)

Kisah ini aku tulis tidak lepas dari kekurangan dan kelemahanku sebagai seorang manusia biasa yang sering melakukan kesalahan. Aku hanya berharap  apa yang aku tulis ini mampu memberikan sedikit gambaran tentang hakikat cinta melalui sepenggal kisah dalam hidupku. Cinta yang agung dan tidak ada cinta lain di dunia ini yang mampu menandinginya.

Cinta itu indah. Cinta bisa membuat kita bahagia. Cinta mampu mengubah yang kasar menjadi lembut, yang gelap menjadi terang, serta yang dingin dan panas menjadi kehangatan. Cinta mampu mengubah permusuhan menjadi persahabatan. Cinta mampu mengubah hati yang keras menjadi penuh kasih sayang. Begitulah beberapa orang mengenal cinta. Namun terkadang saat melihat realita yang ada, ternyata cinta bisa membuat orang terluka, menangis serta menimbulkan kesedihan dan kebencian. Lalu apa sebenarnya cinta itu? Tak ada satupun orang yang mampu menjelaskan makna apa itu cinta cukup dengan kata – kata. Hanya hati kitalah yang dapat mendefinisikan cinta itu sendiri. Hati inilah yang mampu menangkap sinyal makna dan hakikat cinta melalui perjalanan hidup kita.

Berangkat dari kisahku dalam mencari cinta..(cie..cie.. :D ). Terlepas dari cinta kita pada keluarga, kerabat, sahabat, dan harta benda yang kita miliki. Kisah ini lebih khusus tertuju pada cinta kita kepada lawan jenis yang merupakan fitrah kita sebagai manusia ciptaan tuhan. Secara fitrahnya, laki – laki dan perempuan memiliki rasa ketertarikan antara satu dengan yang lainnya. Rasa ketertarikan itu Alloh turunkan kepada manusia sejak nenek moyang mereka (Adam dan Hawa) berada di surga. Sehingga setiap orang pasti mengalami perasaan jatuh cinta.

Saat masih duduk di bangku SD, tidak ada dalam benakku untuk tertarik pada teman perempuan meskipun diantara teman sekelasku ada yang sudah mengalaminya bahkan sampai berpacaran. Aku paling tidak suka saat ada salah seorang temanku mengatakan bahwa aku sedang jatuh cinta pada seorang teman perempuan. Lagipula saat itu aku juga kurang begitu suka dengan anak perempuan karena sering berantem dan saling ejek dengan mereka.

Perasaan tidak suka pada anak perempuan itu lambat laun hilang semenjak memasuki masa puber (saat masuk SMP). Perasaan suka pada perempuan bermula saat ada beberapa kakak kelas perempuan yang sering memujiku…(sory ya narsis dikit… J). Aku tidak tahu kenapa mereka suka memuji dan menggodaku saat aku berjalan melintas didepan mereka. Mereka bilang aku ini anaknya manis (waktu masih kecil…hehe). Bahkan ada teman perempuan dari kelas yang berbeda menitipkan salam buatku. Katanya dia simpatik padaku (jadi GR…hehe ..narsis mode:on). Hal itu semakin membuatku percaya diri dan mulai tertarik pada anak perempuan. Namun waktu itu aku hanya sebatas suka. Tidak lebih. Aku belum berani menyatakan perasaanku pada siapapun perempuan yang aku suka. Aku masih lebih sering memendamnya. Namun saat menginjak ke kelas II (sekarang kelas VIII), aku mengenal gadis berinisial “D.” Meskipun kita berbeda kelas, tapi dia suka memperhatikanku. Dari tatapannya seolah dia menaruh hati padaku. Hingga pada suatu hari dia diajak temannya untuk bertemu denganku dan akhirnya dia mengakui kalau dia memang suka padaku.  Waktu itu aku sangat terkejut dan bahagia bagaikan terbang ke awan….(hehe…lebay). Deg – degan juga ditembak sama cewek… :D . Dengan perhatian yang selama ini telah ia berikan, akhirnya aku juga bilang ke dia kalau aku juga suka sama dia. Sehingga waktu itu kita resmi berpacaran meskipun masih malu – malu untuk bertemu.

Karena saat itu kita mulai masuk ke kelas III, akhirnya waktu kita banyak tersita untuk memikirkan Ujian Nasional dan kelulusan. Waktu itu standard minimal nilai rata – rata kelulusan Ujian Nasional sudah ditentukan, sehingga kita harus belajar giat agar nilai kita diatas nilai itu. Pada akhirnya kesempatan untuk bertemu pun jarang kita dapatkan hingga kelulusan.

Setelah lulus, aku melanjutkan studiku di salah satu SMA di kota Ngawi. Sekolah yang lokasinya masih berada dalam satu kabupaten dengan rumahku. Sedangkan dia memutuskan untuk melanjutkan sekolahnya ke Kalimantan, di sebuah SMA yang dekat dengan tempat kelahirannya. Sehingga pada akhirnya kita dipisahkan oleh jarak dan waktu. Pada suatu hari dia mengirimkan surat kepadaku kalau dia masih suka padaku. Namun karena tidak pernah bertemu dan saling berkomunikasi, akhirnya hubungan kitapun kandas (waktu itu masih jarang sekali orang yang mempunyai HP… J).

Di SMA, aku mulai disibukkan dengan kegiatan sekolah. Selain mengikuti pembelajaran di kelas, aku juga mengikuti salah satu kegiatan ekstrakurikuler yang ada di sekolah. Sehingga aku menjadi lumayan sering mengikuti salah satu kegiatan kerohanian islam yang diadakan oleh takmir masjid sekolah. Di salah satu acara, seorang pembicara menyampaikan materi tentang cinta. Apa yang harus kita lakukan sebagai seorang remaja saat sedang mengalami jatuh cinta. Beliau menyampaikan bahwa ternyata berpacaran itu tidak diperbolehkan dalam islam. Didalam islam tidak ada yang namanya pacaran sebelum pernikahan. Tapi pacaran setelah pernikahan itu jelas. Pembicara dengan gaya serta materi yang ia sampaikan itu sungguh menyedot perhatian para peserta pada waktu itu. Karena terus terang saja masa SMA adalah masa – masa remaja. Masa yang paling rentan untuk mengalami ketertarikan pada lawan jenis yang berimbas pada pacaran. Apalagi dengan banyaknya film dan sinetron di televisi yang menyuguhkan adegan percintaan membuat mereka mudah sekali terpengaruh untuk meniru.

Aku merasa tersinggung dengan apa yang disampaikan oleh si pembicara tausyiah tadi. Apa yang beliau sampaikan ternyata mengkritik habis – habisan tentang apa yang aku lakukan selama masih di SMP. Aku sadar, aku harus berubah dan berusaha melupakan “D” yang waktu itu masih ada dalam pikiranku. Dengan kegiatan dan belajar yang aku jalani, pada akhirnya aku mampu melupakannya. Aku juga mulai sering mengikuti kegiatan keislaman di sekolah hingga menjadi pengurus takmir masjid sekolah. Saat pulang sekolah, biasanya aku lebih suka menghabiskan waktuku di masjid sekolah setelah melakukan sholat dhuhur atau beristirahat. Kesempatan ini membuatku mengenal teman – teman pengurus takmir lainnya. Biasanya kita sering berdiskusi tentang mata pelajaran di masjid. Karena intensitas pertemuan, akhirnya akupun semakin akrab dengan mereka layaknya saudara sendiri.

Karena seringnya berinteraksi dengan teman – teman takmir masjid baik laki – laki maupun perempuan, akupun mulai tertarik dengan anak perempuan yang berjilbab dengan rok bawahan lebar….haha :D . Aku merasa bahwa wanita semakin terlihat anggun, bersahaja, dan terhormat ketika mengenakan jilbab plus rok bawahan yang lebar . Tapi perasaanku itu harus aku jaga karena aku tahu perasaan itu tidak boleh dibiarkan berkembang. Akhirnya aku menjalani hari – hariku di sekolah dengan baik tanpa berpacaran…(mantabs khan..hehe).

Namun suasana menjadi berubah ketika aku mulai naik ke kelas III (sekarang IX). Waktu itu aku memilih jurusan IPS (Ilmu Sosial) karena aku sadar bahwa aku lemah dalam Matematika. Selain harus fokus pada UN dan kelulusan, aku pun harus beradaptasi dengan lingkungan yang baru. Aku harus berteman dengan siswa yang belum pernah satu kelas denganku saat kelas I dan II. Karena terlalu fokus dengan itu semua, akhirnya aku mulai jarang berinteraksi dengan teman – teman takmir masjid sekolah. Sekolah pun juga membatasi kegiatan bagi para siswa yang sudah naik ke kelas III agar tetap fokus pada pelajaran.

Lingkungan dan pergaulan baru itulah yang membuat sikap dan karakterku menjadi berubah. Waktu itu sekolahku mulai kedatangan para siswa baru. Kedatangan mereka disambut hangat oleh kakak kelas mereka kelas II dan III tak terkecuali kelasku. Dasar remaja…. Beberapa teman kelasku langsung memanfaatkan kesempatan itu untuk mendekati siswi baru yang terlihat cantik….haha.. Dasar! Dengan karakter teman kelas yang seperti itu, akupun mulai terpengaruh untuk melakukan hal yang sama. Aku menjadi lebih berani mendekati perempuan. Kalau dulu aku tidak pernah memperhatikan apakah perempuan yang aku dekati itu berjilbab atau tidak, tapi karena mulai suka dengan siswi berjilbab saat itu aku memilih untuk mendekati siswi perempuan yang berjilbab. Hingga pada akhirnya membawaku untuk jatuh hati pada seorang gadis berjilbab cantik berinisial “A”. Tapi jujur loh…. Sebenarnya aku bukanlah orang yang boleh dibilang playboy dan suka menggoda gadis cantik, tapi waktu itu aku benar – benar mengalami jatuh hati yang mendalam…. (wuih…serius mode:on)

Berawal dari pertemuan pertama dan dilanjutkan dengan perkenalan. Saat pertama kali bertemu dengannya, aku sudah merasakan ketertarikan padanya. Kemudian aku minta tolong teman kelasku yang waktu itu cukup dekat dengannya untuk memediasi perkenalan kita. Setelah perkenalan itu aku merasa menjadi orang yang paling bahagia. Terang saja siapa yang tidak beruntung dan bahagia bisa berkenalan dengan gadis berjilbab cantik dan alim seperti “A.” Jarang ada orang yang bisa melakukannya. Mulai saat itu pula perasaan sukaku kepada gadis itu semakin hari semakin kuat. Sering terbesit dalam benakku untuk bisa menjadi lebih dekat dengannya. Akupun mulai selalu memperhatikannya. Perhatian demi perhatianpun aku berikan agar dia semakin tertarik padaku. Waktu itu lumayan banyak yang aku lakukan untuk bisa mendapatkan perhatiannya. Aku tidak bisa menyebutkan semuanya disini.

Meskipun dengan banyaknya perhatian yang aku berikan, aku tetap tidak bisa mendekatinya. Dia sangat menjaga dirinya untuk tidak bergaul dengan anak laki – laki secara lebih dekat. Sebenarnya aku juga menyadari bahwa dia adalah seorang muslimah yang taat sehingga dia tidak mungkin bisa aku dekati layaknya perempuan yang lain. Sehingga tiap kali aku mengajaknya untuk bertemu, dia pasti menolak. Hingga suatu hari dengan tulus aku menyatakan rasa sukaku padanya melalui telepon (hmm….moment yang mendebarkan)… Kemudian dia menjawab dan menjelaskan bahwa dia tidak mau berpacaran dan masih ingin fokus dalam belajar. Tidak cukup puas dengan penjelasannya itu, aku pun akhirnya menantangnya dengan bertanya sampai kapan dia siap untuk menikah (aku heran sedewasakah aku waktu itu sampai berani menantangnya untuk menikah…hehe). Dia bilang bahwa dia akan menikah pada saat yang tepat nantinya. Sebenarnya aku cukup lega sudah bisa menyatakan perasaan suka yang aku pendam kepadanya waktu itu. Namun dengan jawaban yang ia berikan, aku menjadi semakin penasaran dan ingin rasanya menunggu dia sampai dia siap. Aku masih ingat kata – kata terakhir yang aku ucap ketika menutup pembicaraan. Dengan suara lirih aku berkata bahwa aku akan menunggunya (wah….bisa – bisanya aku melakukan itu…kayak di sinetron aja..haha). Tapi kata – kata itulah yang menjadi boomerang bagiku setelah itu. Aku merasa bahwa itu adalah janji. Janji yang harus aku tepati pada suatu hari nanti.

Setelah kejadian itu aku merasa sangat lega sekali. Akhirnya semua yang terpendam dalam hatiku bisa terluapkan. Saatnya aku fokus pada Ujian Nasional dan Ujian Masuk PTN. Karena waktu itu aku berkeinginan untuk bisa masuk di jurusan komunikasi UNS, akupun mulai belajar giat. Dulu aku punya dua pilihan kalau tidak diterima di jurusan komunikasi ya di bahasa Inggris. Tapi kuliahnya di UNS.

Setelah lulus SMA, aku mengikuti tes SPMB (Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru) di Jogja. Tapi sayang ternyata impianku untuk kuliah di UNS kandas karena aku tidak diterima di kampus itu setelah tes. Akupun akhirnya diterima di salah satu PTN di Semarang dengan mengambil jurusan Bahasa Inggris. Setelah diterima, aku mulai menikmati perkuliahanku. Selama kuliah aku juga mengikuti berbagai macam kegiatan di kampus. Disibukkan dengan aktivitas yang cukup banyak di kampus, akhirnya aku mulai melupakan “A.” Meskipun demikian, aku masih mencintainya dan tidak ingin ada perempuan lain di hatiku selama aku kuliah. Sehingga selama kuliah tidak pernah ada wanita lain (secantik dan seanggun apapun dia) bisa menggantikan “A” dalam hatiku. Tapi aku sadar, aku tidak boleh memikirkannya terus. Jika aku terus memikirkannya, sama saja aku telah melakukan hal yang tercela (walaupun kecil)…. Tidak boleh… tidak boleh…hmm. Aku hanya bisa berencana kalau dia lulus kuliah dan akupun sudah bekerja nantinya, aku akan menikahinya (wah….ternyata aku sudah membuat keputusan yang cukup besar buat diriku sendiri).

Setelah lulus kuliah, aku langsung bekerja. Sedangkan dia masih kuliah. Pada suatu hari aku mendengar kabar bahwa ternyata dia telah melangsungkan pernikahan. Aku sangat heran secepat itukah dia memutuskan untuk menikah. Padahal dia masih kuliah. Waktu itu aku bagaikan disambar petir (lebay mode:on)… Cukup menyakitkan memang. Beberapa hari aku masih sangat terpukul dengan kabar itu. Tapi kemudian aku segera berfikir bahwa itu adalah pilihan dia. Dia telah memilih laki – laki terbaik menurutnya. Aku juga menyadari bahwa ternyata dia memang tidak berjodoh denganku. Usaha dan rencana apapun yang kita lakukan, kalau memang tidak berjodoh, ya pasti tidak akan bisa bertemu. Jodoh itu benar – benar sangat misteri dan tidak bisa kita rencanakan begitu saja. Ada sebuah kekuatan lain yang mengaturnya. Dialah Alloh….. Dialah yang menciptakan seluruh alam semesta dan mengaturnya secara rapi  dan seimbang.

Belum tentu seseorang atau sesuatu yang kita sukai itu baik menurut Alloh. Padahal semua pilihan Alloh itu pasti yang terbaik. Aku yakin bahwa sebenarnya Alloh telah menyiapkan bidadari lain yang akan mendampingiku disuatu tempat yang belum aku ketahui. Tentunya dia lebih baik daripada “D” dan “A.” Asalkan aku berusaha memperbaiki diriku, aku akan mendapatkan yang baik pula.

Inilah bukti dan tanda kecintaan Alloh kepada kita. Cinta-Nya tulus dan sejati. Dia mencintai kita tanpa meminta balasan apapun dari kita. Apakah kita harus menyakiti Dia dengan mencintai makhlukNya yang lain tanpa izin-Nya?. Alloh sangat mencintai kita dengan memberikan ujian hidup kepada kita agar kita bisa terus belajar. Jika kita tidak pernah merasakan sakit dan patah hati, maka kita tak akan pernah belajar untuk bersabar. Semakin kita belajar dari ujian, maka kita semakin matang dan dewasa serta memiliki wawasan yang luas. Kitapun menjadi orang yang bisa melakukan amalan mulia dengan mengajarkan pengalaman kita kepada orang lain. Amalan mulia itu akan menjadi amal ibadah dan investasi pahala kita di akhirat. Sehingga kita selamat dunia dan akhirat….. amin.

Kuikat dengan Sempurna

Karena aku cinta
Selalu kusebut nama-Nya
Di kala hati rindu
Ingin bertemu selalu

Reff
Cinta ini penuh pada-Nya
Tak kan pernah terbagi dua
Cinta ini cinta sejati
Cinta tuk Ilahi

Jika aku cinta manusia
Ini pasti izin dari-Nya
Sujud penuh syukur pada-Nya
Semoga bahagia

Bila cinta tiba
Kuikat dengan sempurna
Dengan rumah tangga
Terukir janji setia

Album           : Single ANN Jateng
Munsyid       : ANN Jateng – Naufal Nasheed
http://liriknasyid.com

Salatiga, 23 Juli 2010

You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply